Minggu, 10 Mei 2015

DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS DAN KAITANNYA DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI NEGARA ASEAN: STUDI KASUS PERDAGANGAN CHINA – FILIPINA

Nama : Pidia Citra

Npm : 26213856

Kelas : 2EB19

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

DAMPAK PERDAGANGAN BEBAS DAN KAITANNYA DENGAN PERTUMBUHAN EKONOMI NEGARA ASEAN: STUDI KASUS PERDAGANGAN CHINA – FILIPINA

I.       Pendahuluan
Lahirnya perdagangan bebas akibat dari fenomena globalisasi memang sudah tidak dapat dibendung lagi. Di mana setiap negara sekarang ini, harus bersiap menghadapi kedua fenomena tersebut. Kerjasama perdagangan yang dijalin antara China dan Filipina pun merupakan akibat dari lahirnya globalisasi dan perdagangan bebas tersebut.
Kedua negara, baik China dan Filipina berupaya menjalin kerjasama perdagangan dan investasi yang sama-sama menguntungkan. Sebelum terjalinnya kesepakatan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), dapat dilihat bahwa kegiatan perdagangan dan arus investasi antara kedua negara tersebut masih relatif kecil. Dan, jika dibandingkan dengan kerjasama yang dilakukan paska terjalinnya kesepakatan China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA), maka pertumbuhan kerjasama di antara kedua negara tersebut mengalami peningkatan yang signifikan.
Dalam kerjasama ekonomi yang dilakukan antara China dan Filipina, telah tergambar prinsip-prinsip perdagangan bebas di mana di antara kedua negara telah terjadi free movement of goods, services, labour, and capital.
Peningkatan-peningkatan kegiatan perdagangan dan investasi di  antara keduanya semakin progresif. Bahkan, kedua negara tersebut, berupaya menggenjot kerjasama perdagangan dan investasi hingga US $ 60 Milyar pada tahun 2016 mendatang.
Dengan demikian, kedua negara telah dapat memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya di dalam kerjasama yang terjalin tersebut. Sehingga, kedua negara mendapatkan comparative advantage atas kerjasama kedua belah pihak.
Namun, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin melambat, perlu juga adanya kewaspadaan di antara kedua negara tersebut atas  kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam kurun waktu dua sampai tiga tahun ke depan.
Di mana, pasca terjadinya krisis ekonomi di Amerika dan Eropa, pertumbuhan ekonomi China semakin melambat. Jika pertumbuhan ekonomi China melambat, sedangkan China merupakan negara yang selama ini bisa dibilang great powers dalam bidang ekonomi dan menjadi leader dalam bidang ekonomi di kawasan Asia Pasifik, maka dampak yang negatif pun akan teradiasi ke negara-negara sekitarnya, khususnya negara-negara yang menjalin kerjasama perdagangan dan investasi dengan China.

II.     ISI

Perdagangan Bebas dan Trend Perdagangan China-Filipina
Pemerintah China dan Filipina telah melakukan kesepakatan untuk melakukan pengembangan program kerjasama perdagangan dan ekonomi. Diperkirakan perdagangan itu akan menggulirkan dana sekitar US $ 60 sampai tahun 2016. Kesepakaatan tersebut merupakan hasil dari penandatanganan perjanjian bilateral antara kedua negara yang ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Albert del Rosario, dengan mitranya yang disaksikan oleh Presiden Benigno Aquino III serta Presiden China, Hu Jintao di Beijing pada 31 Agustus 2011.[4]
Peningkatan kerjasama di antara kedua negara tersebut, selain pada bidang ekonomi dan perdagangan juga merambah ke bidang-bidang lain yang strategis, seperti kerjasama kementrian luar negeri, jaringan televisi, upaya mempromosikan Filipina ke investor China, bidang informasi, olahraga dan pariwisata. Dari kesepakatan kerjasama tersebut pun, Filipina mendapatkan kontrak perusahaan China, ZTE, untuk membangun jaringan broadband dan proyek jalan kereta api senilai 330 juta dolar AS.
Dalam kesepakatan tersebut, Presiden Filipina, Benigno Aquino, mencoba mendesak para pengusaha China untuk menginvestasikan modalnya di Filipina. Presiden Benigno Aquino, mencoba melakukan perubahan kerjasama ekonomi yang lebih bebas sekarang ini. Dalam Forum Ekonomi dan Perdagangan Filipina-China, Ia mengutarakan bahwa Ia akan mencoba mengambil jalan pintas supaya dapat terwujud kesepakatan bersama.

 
Selain kerjasama perdagangan atas komoditas perdagangan yang kedua negara tersebut lakukan. Kerjasama investasi antara kedua negara tersebut pun meningkat. Hal ini menunjukkan kerjasama yang baik. Yang di dapat dari data Tiongkok, investasi riil Tiongkok di Filipina dalam sektor keungan pada tahun 2010 tercatat sebesar US $ 86 juta, meningkat sebesar 112,5 %, sedangkan Tiongkok menyerap modal Filipina sebesar US$ 11,59 juta, meningkat 97,8%.[5] Adapun bidang utama investasi Tiongkok di Filipina adalah sektor  pertambangan, manufaktur, dan energi listrik. Sedangkan investasi Filipina di Tiongkok terutama dalam bidang properti dan ritel.
Dengan terjalinnya kerjasama perdagangan bebas di antara China dan Filipina, maka sektor pariwisata di antara kedua negara pun memperlihatkan peningkatan. Dalam melakukan kerjasama tersebut, China tidak semata-mata hanya mengejar kepentingan ekonomi, tetapi juga politik, sosial dan budaya.
Liu Jianchao, seorang duta besar China untuk Filipina mengemukakan bahwa kerjasama perdagangan bebas yang dijalin antar China dan Filipina akan mendatangkan kesempatan yang besar. Karena dengan potensi ekspor yang dimiliki Filipina dalam komoditi elektronik, produk agrikultur, buah-buahan, ikan dan mineral, Filipina dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dan mendapatkan comparative advantage dari kerjasama yang terjalin.
Selain comparative advantage itersebut, Investasi yang semakin berkembang antara China dan Filipina pun akan dapat mendorong pembangunan di Filipina, hal-hal tersebut lah yang menjadi beberapa faktor pendorong dijalinnya kerjasama perdagangan bebas yang semakin intens digalakkan oleh Pemerintah China dan Filipina

III.  Kesimpulan
Reformasi Ekonomi di China dilakukan untuk tujuan yang esensial: yakni meningkatkan kesejahteraan China. Dinamika eksternal dimana globalisasi menjadi realita yang tak terelakkan, menjadikan pemimpin-pemimpin China untuk berpikir untuk memanfaatkan globalisasi ini untuk mendapatkan manfaat, diantara ekonomi. Berbagai perubahan kebijakan dilakukan sejak Mao memporakporakporandakan perekonomian China—Deng Xioping lebih membuka perekonomian bagi partispasi aktor non negara sekaligus  mengurangi kontrol penuh pemerintah dalam aktivitas perekonomian.
Dalam hal ini, China dan Filipina menjalin kerjasama perdagangan bebas tersebut. Jika dilihat dari trend perdagangan yang ada, tergambar bahwa kedua negara mengalami peningkatan kerjasama perdagangan. Di mana setiap tahun, trend perdagangan selalu meningkat.
Jadi, baik China maupun Filipina dapat memanfaatkan momentum tersebut, sehingga kedua belah pihak dapat meraih comparative advantage dari kerjasama perdagangan yang dijalin.

SUMBER :
http://siti-wulandari.blogspot.com/2012/07/dampak-perdagangan-bebas-dan-kaitannya.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.