Jumat, 21 Maret 2014

Perekonomian Di Indonesia Pada Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Nama        : Pidia Citra

Kelas         : 1EB24

NPM         : 26213856

Jurusan    : Akuntansi

 

 



Kondisi Perekonomian Indonesia Pada Tahap Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

Pada pemerintahan SBY dan JK tahun 2004 – 2008 dan pemerintahan SBY dan BUDIONO. Pada tahun 2004 s/d 2008 pemerintahan SBY dan JK relatif lebih baik dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi pemerintahan SBY-JK selama 5 tahun sebesar 6,4 % yang mendekati target sebesar 6,6 %.

Pada periode SBY-BOEDIONO, pemerintah khususnya melalui Bank Indonesia menetapkan empat kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional negara yaitu : BI rate ,Nilai tukar ,  Operasi moneter, Kebijakan makro prudensial untuk pengelolaan likuiditas dan makro prudensial lalu lintas modal.

Target-target perekonomian pemerintahan ini sesungguhnya dapat dilihat dalam rumusan tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009. pemerintahan SBY-JK merupakan pemerintahan pertama dalam sejarah Indonesia kontemporer yang memulai pelaksanaan RPJMN.

Pada tahun 2005 s/d 2007 pertumbuhan ekonomi mencapai angka 5,6%, 5,5% dan 6,3% angka ini tentu tidak sesuai dengan target (RPJMN) yang seharusnya untuk tahun 2005 (5,5%), 2006 (6,1%) dan 2007 (6,7%) jika pertumbuhan ekonomi pada pemerintahan SBY-JK mencapai 6,6 % per tahun maka pada tahun 2008 -2009 harus diupayakan minimal rata-rata 7,8% para ekonom bersepakat apabila pertumbuhan ekonomi diatas 6% saja dapat dijadikan barometer Indonesia sudah mampu melihat the light at the end of dark tunnel, keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Pemerintahan SBY-JK jika dibandingkan dengan pemerintahan Soeharto pada kinerja 32 tahun Soeharto mencapai sekitar 7% kinerja pertumbuhan ekonomi SBY-JK masih perlu peningkatan. Pertumbuhan ekonomi era Soeharto tertinggi terjadi pada tahun 1980 dengan angka 9,9%.

Namun sekarang kondisi perekonomian SBY lebih baik stelah krisis moneter namun pada periode masa jabatan presiden SBY yang ke 2 ini banyak menemui masalah – masalah dalam bidang perekonomian . Di tahun 2010 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1 % di banding tahun 2009. Semua sektor mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 13,5 %. Pertumbuhan ekonomi tahun 2010 sebesar 6,1 % sebagian bersumber pada komponen ekspor, yakni 6,4 %. Kemudian komponen konsumsi rumah tangga 2,7 % , pembentukan modal tetap bruto 2,0 % , dan perubahan inventori 0,4 %. Dan di awal tahuN 2011 kita patut bernapas lega karena menurut data dar BPS, nilai Indeks Tendensi Konsumen ( ITK ) di Jabodetabek pada triwulan I – 2011 di perkirakan sebesar 106, 49 , artinya kondisi ekonomi konsumen di perkirakan membaik. Tingkat optimisme konsumen di perkirakan akan lebih tinggi di bandingkan triwulan IV – 2010 ( nilai ITK sebesar 101,09 )

            Namun dengan demikian pemerintahan SBY diharapkan bisa memberikan keadilan bagi seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali agar Indonesia bisa menjadi Negara yang maju dan bisa mensejahterakan bangsa Indonesia.

             Pasangan SBY-Boediono mengklaim pemerintahannya bukanlah termasuk dalam pemerintahan yang berciri khaskan perekonomian Neoliberal melainkan pemerintahan yang berciri khaskan menjalan kebijakan ekonomi Jalan Tengah. SBY berucapkan bahwa pemerintahannya masih menerapkan intervensi dan subsidi, termasuk program BLT dan PNPM Mandiri.

            Dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhyono juga mengajak para pimpinan daerah menetapkan sasaran pencapaian pembangunan yang realistis di daerah masing-masing.

            Hal itu disampaikan Presiden dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrembangnas) yang dihadiri seluruh pimpinan daerah, di Bidakara, Jakarta, beberapa saat lalu (Kamis, 28/4). Musrembangnas tahun ini bertema "Percepatan dan Perluasan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan bagi Peningkatan Kesejahteraan Rakyat".

            SBY mengatakan, harapan rakyat akan terjadinya perubahan sangat tinggi. Karena itu, begitu banyak yang harus dicapai oleh para kepala daerah. Di samping semua tahu persoalan itu tak ringan tapi selalu ada peluang, ada opportunity yang tak boleh kita sia-siakan.

            Presiden juga meminta para kepala daerah untuk mengintegrasikan Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah disusun pemerintah bersama dunia usaha dengan keseluruhan rencana pembangunan baik jangka panjang maupun jangka menengah.

Dan ada pun Perencanaan Pembangunan Berkelanjutan 2015-2019 yang disusun oleh Presiden. Pembangunan berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang berprioritas pada “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kerusakan lingkungan dengan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan salah satu mandat hasil pertemuan the United Nations Conference on Sustainable Development (UNCSD) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro pada Juni 2012.

Indonesia, yang diwakili oleh Kemlu bersama dengan Kementrian PPN/Bappenas,  bersama dengan negara anggota PBB lainnya menjadi salah satu  negara yang berbagi 30 kursi  dalam Open Working Group on Sustainable Development Goals (OWG on SDGs) untuk mendiskusikan 20 kelompok isu, untuk menjadi masukan (hasil bottom up) dalam penyusunan Agenda Pembangunan Global Paska 2015. 

Tahun 2014 adalah tahun terakhir KIB II; dan tahun bagi Pemerintah saat ini untuk menyiapkan rancangan teknokratik Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019; RPJMN Tahap ke III dalam kurun RPJPN 2005-2025. Untuk itu ini menjadi salah satu proses yang penting di dalam menyempurnakan rumusan pembangunan berkelanjutan, baik untuk RPJMN 2015-2019 di tingkat nasional maupun proses penyusunan SDGs di tingkat global.

Pemerintah juga menargetkan 140 juta peserta pada tahap awal Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan beroperasi, 1 Januari 2014 nanti. Pemerintah juga mengubah paradigma kesehatan, dari sekadar berobat gratis menjadi sehat secara gratis. Terhitung mulai 1 Januari 2014, BPJS Kesehatan sudah mulai beroperasi, berdasarkan roadmap yang ada. Secara bertahap sekitar 140 juta peserta pada tahap awal.

Rinciannya adalah, kepesertaan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) sebanyak 86,4 juta jiwa, Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) 11 juta jiwa, 16 juta peserta Asuransi Kesehatan (Askes), 7 juta peserta Jamsostek, dan 1,2 juta peserta dari unsur TNI/Polri. "Insya Allah, pada tahap kedua, paling lambat 1 Januari 2019, seluruh rakyat Indonesia telah menjadi peserta BPJS Kesehatan," Presiden menyampaikan.

Presiden SBY menjelaskan, pembangunan Ekonomi pada sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas penting dalam agenda pembagunan nasional. Masyarakat di seluruh pelosok tanah air mendapat pelayanan kesehatan yang layak dan memadai. Pemerintah terus memperbaiki dan meyempurnakan pengelolaan jaminan kesehatan untuk memberikan kemudahan akses bagi masyarakat dalam memperoleh manfaat dari jaminan pemeliharaan dan perlindungan masyarakat.

Sebagai tindak lanjut ditetapkannya Undang Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang sistem Jaminan Sosial Nasional, Pemerintah dan DPR telah mengesahkan Undang Undang Nomor 24 Th. 2011 tentang BPJS. Ini berarti secara bertahap lima jenis jaminan sosial dapat dinikmati rakyat. Kelima jenis jaminan sosial tersebut adalah jaminan kesehatan, kecelakan kerja, hari tua, pensiun, dan kematian.


Tidak hanya memperiotaskan sektor Kesehatan sebagai Pembangunan Ekonomi tetapi telah kita ketahui juga bahwa pada masa pemerintahan SBY setidaknya telah banyak yang presiden lakukan untuk indonesia , contoh  positif yang diambil yaitu melalui percepatan perubahan APBN tahun 2013 tak sia-sia. Hal ini telah membuahkan hasil, yaitu tersedianya ruang fiskal yang lebih baik dalam RAPBN tahun 2014. Ruang fiskal ini kemudian dialokasikan kepada sektor-sektor infrastruktur, perlindungan sosial, transportasi publik dan energi terbarukan. Dengan kualitas belanja yang lebih produktif ini, maka peran RAPBN tahun 2014 sebagai salah satu instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi dan perbaikan distribusi pendapatan, menjadi lebih optimal.  Dengan postur RAPBN tahun 2014 seperti ini, Indonesia berada dalam posisi yang lebih baik, untuk menghadapi tekanan-tekanan yang mungkin muncul.

Dengan anggaran tahun 2014 yang cukup membaik,  hasil-hasil pembangun ekonomi-pun sudah terlihat seperti pemerintah telah meningkatkan kapasitas jalan lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua sepanjang 3.854,3 km. pemerintah juga telah melalukan preservasi jembatan sepanjang 329,9 km. Anggaran juga disediakan bagi pembangunan infrastruktur irigasi dan waduk, dalam rangka mendukung ketahanan pangan dan air bersih; penyelesaian pembangunan prasarana pengendalian banjir, antara lain di daerah aliran sungai Bengawan Solo dan Kanal Banjir Timur; serta pembangunan rumah susun beserta infra-struktur pendukungnya.



Semoga Artikel ini bermanfaat bagi yang telah membacanya…


Sumber :